IHSAN

Oleh: Ahsanul Huda

فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Beritahukan kepadaku tentang ihsan,” Beliau menjawab: “Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya”[1]

1.    DEFINISI IHSAN

Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engaku melihat-Nya, dan jika tidak mampu melihat-Nya maka yakinlah bahwa Allah melihatmu.[2]

1. Firman Allah

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (217) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (218) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (219) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (220)

” Dan bertawakallah kepada Allah yang maha Perkasa lagi maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat pula) perubahan gerak perubahan badan mu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah yang maha mendengarlagi maha Mengetahui”[3]

b.   Firman Allah

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآَنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari  Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami   menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukanya. Tidak luput dari pengetahuan Rab mu biarpun sebesar buji zarrah di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari pada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (lauh mahfudh)[4]

2.   KALIMAT IHSAN DALAM AL-QUR’AN

Kalimat ihsan di dalam al-Qur’an kadang-kadang di kaitkan dengan Iman dan kadang-kadang dengan Islam dan taqwa dan amal shalih. Adapun dengan iman sebagaimana firman Allah SWT :

ليس عل الذين آموا وعمل الصالحات جناح فيما طعموا إذامااتقواوآمنوا وعمل الصالحات ثم اتقواوآمنوا ثم اتقوا وأحسنوا والله يحب المحسنين

Adapun dengan islam adalah sebagaiman firman Allah SWT:

بلي من أسلم وجهه لله وهو محسن فله أجره عند ربه

Adapun dengan taqwa adalah sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Adapun dengan amal shalih adalah sebagaimana firman Allah

للذين أحسنوا الحسن وزيادة

Dalam shahih muslim di jelaskan bahwa tafsir dari  ziyaadah adalah melihat wajah Allah SWT di jannah, dan ini tepat sebagai balasan bagi orang-orang yang ihsan. Karena ihsan adalah seorang mukmin beribadah kepada Rabbnya dengan Wajah yang tunduk dan mengahadirkan hatinya seakan-akan dalam beribadah senantiasa dilihat oleh Allah. Oleh karena itu balasan adalah melihat Allah kelak di akherat. Berbeda denngan orang-orang kafir, mereka akan terhijab untuk melihat Allah di akherat. Sebagamana firman Allah SWT:

إنهم عن ربهم لمحجوبون

Sabda Rasulullah SAW di dalam menafsiri kalimat ihsan أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ الخ adalah hendaklah seorang hamba di dalam beribadah kepada Allah dengan menunjukkan sifat ini yaitu dengan Wajah yang tunduk dan mengahadirkan hatinya seakan-akan melihat Allah.[5] Oleh karenanya harus ada sifat Khasyah, khouf dan ta’dhim, sebagaimana dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah.

أن تخشي الله كأنك تراه

Demikian juga agar ibadah menjadi syah maka harus di sertai dengan kesungguhan dan menyempurnakan rukun dan syarat-syaratnya. Sesungguhnya Rasulullah telah mewasiatkan kepada para sahabatnya dengan sifat ihsan.

عن أبى ذررضي الله عنه قال : أوصانى خليلى  صلى الله عليه وسلم أن أحشى الله كأنى أراه فإن لم أكن أراه فإنه أرانى

Sifat ihsan ini berkaitan dengan maqam musyahadah, karena andaikata seseorang mampu melihat Al-Malik (sang raja) ia pasti malu untuk berpaling kepada selain-Nya di dalam shalat dan sibuk memikirkan selain-Nya. Maqam ihsan ini setara dengan maqam shiddiqin.

Indikasi sifat kejujuran dan ketulusan pada seorang hamba adalah adanya kesamaan antara kondisi yang tersembunyi dan yang terlihat serta antara keadaan batin dan lahir. Sifat shidiq (jujur, tulus) terwujud dengan terpenuhinya semua sikap dan sifat baik lainya. Berbeda dengan ikhlas, karena ihklas masih membutuhkan adanya kejujuran dan ketulusan, akan tetapi sifat shidiq tidak membutuhkan kepada apapun. Sebab hakekat ikhlas adalah menghendaki ridho Allah dengan melaksanakan amal ketaatan. Kadang seseorang menginginkan ridho Allah dengan melaksanakan shalat, akan tetapi ia lalai, tidak mewujudkan kehadiran hati dalam melaksanakanya. Adapun yang dimaksud shidiq ialah menghendaki ridho Allah dengan melaksanakan ibadah, dibarengi kehadiran hati kepada-Nya. Setiap yang shidiq pasti ikhlas, tetapi tidak setiap yang ikhlas pasti shidiq.[6]

3. TAHAPAN-TAHAPAN IHSAN

a. Tingkatan pertama: Seseorang beribadah kepada Allah seakan-akan ia melihatnya. Sebagai bentuk ibadah permohonan , kerinduan , keinginan, dan kecintaan. Dia memohon kepada zat yang ia cintai yaitu Allah, juga yang di tuju serta di sembah seakan-akan ia melihatnya. Inilah tahapan ihsan yang tertinggi ; Engkau beribadah kepada Allah seakan- akan engkau melihatnya.”

b. Tingkatan kedua: Jika engkau tidak mampu beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan mencari-Nya, maka beribadahlah kepada-Nya seakan-akan Dialah yang melihatmu. Sebagai bentuk ibadah orang yang takut kepadanya, orang yang lari dari adzab dan siksa-Nya, serta merendahkandiri kepada-Nya, “Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah Dia melihatmu.”  [7]

[1] HR. Muslim

[2] Al-Kamil

[3] QS. Asy-Syu’ara : 217-220

[4] QS. Yunus : 61

[5] Majmu’ul ulum wal hikam

[6] Syarh Ar-Ba’in Nawawi

[7] Al-Kamil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: