AWAL MUNCULNYA NAMA AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH

Oleh: Ahsanul Huda

Awal terjadinya penamaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ketika terjadinya perpecahan, sebagaimana yang dikhabarkan Nabi saw. Karena sebelum terjadinya perpecahan, tidak ada istilah-istilah itu sedikit pun, baik istilah Ahlus Sunna wal Jama’ah, Syi’ah, Khawarij, atau lainnya. Pada saat itu kaum muslimin seluruhnya berada di atas dien dan pemahaman yang satu yaitu Islam.

Sengaja kami tidak mengatakan lahirnya Ahlus Sunnah wal Jamaah, tetapi kami menyebutnya lahirnya penamaan Ahli Sunnah Wal jama’ah. Alasannya, madzab ahli Sunnah itu merupakan jalan yang di tempuh Rasulullullah saw dan para sahabatnya. Mereka bukan pembuat bid’ah, sehingga nama tersebut tidak dapat dinisbatakan kepada perseorangan atau kelompok. oleh karena itu, tidak dapat di katakan, “Mazhab Ahli Sunnah ini lahir pada tahun sekian.”

Menurut Ibnu Taimiyah, mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mazhab yang telah ada sejak dulu. Ia sudah di kenal sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmaf. Ahli Sunnah ialah madzab sahabat yang telah menerimanya dari Nabi mereka. Barang siapa menentang itu, menurut pandangan Ahli Sunnah, berarti ia pembuat bid’ah. Mereka telah sepakat bahwa ijma’ orang-orang sesudah sahabat.[1]

Penamaan istilah Ahlus Sunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah yaitu generasi Shahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu[2] berkata ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

” Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” [Ali Imran: 106]

Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah ahlu bid’ah dan sesat.[3]

Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama Salaf rahimahullah di antaranya:

  1. Ayyub as-Sikhtiyani Rahimahullah (wafat th. 131 H), ia berkata, “Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.”
  2. Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata: “Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuraba’(orang yang terasing). Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”[4]
  3. Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah[5] (wafat th. 187 H) berkata: “…Berkata Ahlus Sunnah: Iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan.”
  4. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallaam Rahimahullah (hidup th. 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-Imaan [6] : “…Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, ber-tambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian…”
  5. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah[7] (hidup th. 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzhab Ahlul ‘Ilmi, Ash-habul Atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul e dan para Shahabatnya, dari semenjak zaman para Shahabat Radhiyallahu Ajmai’in hingga pada masa sekarang ini…”
  6. Imam Ibnu Jarir ath-Thabary Rahimahullah (wafat th. 310 H) berkata: “…Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah pada hari kiamat, maka itu merupakan agama yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa ahli Surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]
  7. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawy Rahimahullah (hidup th. 239-321 H). Beliau berkata dalam muqaddimah kitab ‘aqidahnya yang masyhur (‘Aqidah Thahawiyah): “…Ini adalah penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Ahli Hadits ini mulai populer ketika telah tejadi perpecahan, munculnya berbagai golongan, serta banyaknya bid’ah dan berbagai golongan, serta banyaknya bid’ah dan penyimpangan. Pada saat itulah Ahli Sunnah menampakkan identitasnya yang brebeda dengan yang lain, baik dalam aqidah maupun manhaj mereka. Namun pada hakikatnya, mereka itu hanya merupakan proses kelanjutan dari apa yang di jalankan Rasulullah e dan para shahabatnya.

Cobaan itu muncul pada permulaan abad ketiga masa pemerintahan al-Ma’mun dan (saudaranya) al-Mu’tashim, kemudian al-Watsiq pada saat kaum Jahmiyah menafikkan sifat-sifat Allah dan menyerukan menusia agar mengikuti paham mereka. madzab ini dianut oleh tokoh-tokoh Rafidlah (periode terakhir) yang mendapat dukungan pihak penguasa.

Terhadap penyimpangan tersebut, Madzab Ahli Sunnah tentu menolak. oleh karena itu, mereka sering mendapat ancaman ataupun siksaan. Adapula yang di bunuh, ditakut-takuti, ataupun dibujuk rayu. Namun dalam menghadapi situasi yang seperti ini, Imam Ahmad tetap tabah dan tegar sehingga mereka memenjarakan beliau sekian beberapa waktu lamanya. kemudian mereka menantang mereka untuk berdebat. dan terjadilah berdebatan yang amat panjang.

Dalam perdebatan tersebut, demikian menurut Imam Ahmad, dibahas masalah-masalah mengenai sifat-sifat Allah dan yang berkaitan dengannya, mengenai nash-nash, dalil-dalil, antara pihak yang membenarkan dan menolak. dengan adanya perbedaan pandangan itu akhirnya ummat terpecah belah menjadi berkelompok-kelompok.

Imam Ahmad dan Imam-imam lainnya dari Ahli Sunnah serta Ahli Hadits sangat mengetahui kerusakan Madzab Rafidlah, Khawarij, Qodariyah, Jahmiyah, dan Murji’ah. Namun karena adanya cobaan, maka timbullah perdebatan. Dan Allah mengangkat kedudukan Imam (Ahmad) ini menjadi Imam Sunnah sekaligus sebagai tokohnya. Predikat itu memang layak di sandangnya karena beliau sangat gigih dalam menyebarkan, menyatakan, mengkaji nash-nash dan atsar-atsarnya, serta menjelaskan segala rahasianya. Beliau tidak mengeluarkan statement-statemen baru, apalagi pandangan bid’ah.

Kegigihan beliau dalam memeperjuangkan Ahli Sunnah tidak dapat diragukan lagi, sampai-sampai sebagai ulama di Maghrib mengatakan, ‘Madzab itu milik Malik dan Syafi’i, sedangkan kepopulerannya milik Ahmad. Maksudnya, madzab para Imam Ushul itu merupakan satu madzab seperti apa yang dikatakannya’.”[9]

Imam Malik rahimahullah, ketika ditanya tentang ahul sunnah, beliau menjawab dengan mengatakan: “Ahlus sunnah adalah orang-orang yang tidak memiliki laqab (gelar tertentu) yang mereka dikenal dengannya. Mereka bukanlah Jahmiyyun (pengikut pemahaman Jahmiyah), bukan Qadariyyun (pengikut pemahaman Qadariyyah) dan bukan pula Rafidiyyun (pengikut pemahaman Syi’ahRafidhah).”[10]

Dari sini kita sepakat, seperti apa yang telah dikatakan Dr. Mustafa Holmy: “Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah pelanjut pemahaman kaum muslimin pertama yang ditinggalkan oleh Rasulullah e dalam keadaan beliau ridha terhadap mereka, sedangkan kita tidak bisa membuat batasan permulaan (munculnya mereka) yang kita bisa berhenti padanya, sebagaimana yang dapat kita lakukan pada kelompok-kelompok yang lain. Tidak ada tempat bagi kita untuk menanyakan tentang sejarah munculnya ahlus sunnah, seperti halnya jika kita bertanya tentang sejarah munculnya kelompok-kelompok yang lain.”[11]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitabnya Minhaju As-Sunnah: “Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah madzhab yang terdahulu dan telah terkenal sebelum Allah menciptakan Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Ia adalah madzhab para shahabat yang diterima dari Nabi mereka. Barangsiapa yang menyelisihi (madzhab) tersebut, maka dia adalah Ahlul Bid’ah menurut (kesepakatan) Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”[12]

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa Ahli Sunnah Wal jama’ah merupakan kelanjutan dari jalan hidup Rasulullah e dan para sahabatnya. Kalaupun bangkit seorang Imam pada jaman bid’ah dan keterasingan Ahli Sunnah yang menyeru manusia kepada aqidah yang benar dan memerangi pendapat yang menentangnya, maka ia tidaklah membawa sesuatu yang baru. Ia hanya memperbaharui madzzab ahli sunnah yang sudah usang dan menghidupkan ajaran yang sudah terkubur. Sebab, aqidah dan sisitemnya (manhaj), bagaimanapun, tidak pernah berubah.

Dan jika pada suatu masa atau pada suatu tempat terjadi penisbatan madzab Ahli Sunnah terhadap seorang ulama atau mujaddin (pembaharu), maka hal itu bukan karena ulama tersebut telah menciptakan (sesuatu yang baru) atau mengada-ada. Hal itu pertimbanganya semata-mata karena ia selalu menyerukan manusia agar kembali kepada as-sunnah.

Dengan penjelelasan tersebut, maka jelaslah bagi kita bahwa lafazh Ahlus Sunnah sudah dikenal di kalangan Salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak untuk melawan Ahlul Bid’ah. Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah agar ummat faham tentang ‘aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan Ahlu Bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Barbahary, Imam ath-Thahawy serta yang lainnya.

Dan ini juga sebagai bantahan kepada orang yang berpendapat bahwa istilah Ahlus Sunnah pertama kali dipakai oleh golongan Asy’ariyah, padahal Asy’ariyah timbul pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriyyah.[13] Wallahu A’alam Bishawwab

Daftar Pustaka:

1.  Minhaj as-Sunnah karya Ibnu Taimiyyah Tahqiq Muhammad Rasyad Salim

2.  Wasathiyyah Ahlis Sunnah bainal Firaq karya Dr. Muhammad Baa Karim Muhammad Baa ‘Abdullah

3.  Al-Intiqa karya Ibnu Abdil Barr

4.  Tafsiir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsiir

5.  Shariihus Sunnah karya Imam Ath-Thabary Rahimahullah’

6.  Tahdziibut Tahdziib karya

7.  Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Ibnu Abi Hatim

8.  Siyar A’lamin Nubalaa’karya Imam Adz-Dzahabi


[1] Minhaj as-Sunnah 2:482, Tahqiq Muhammad Rasyad Salim

[2] Beliau adalah seorang Shahabat yang mulia dan termasuk orang pilihan Radhiyallahu anhuma. Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib al-Hasyimi al-Qurasyi, anak paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, penafsir al-Qur-an dan pemuka kaum muslimin di bidang tafsir. Dia diberi gelar ‘pena’ dan juga ‘laut’, karena luas keilmuannya dalam bidang tafsir, bahasa dan syair Arab. Beliau dipanggil oleh para Khulafa’ ar-Rasyidin untuk dimintai nasehat dan pertimbangan dalam berbagai perkara. Beliau Radhiyallahu ‘anhuma pernah menjadi wali pada zaman ‘Utsman Radhiyallahu ‘anhu tahun 35 H, ikut memerangi kaum Khawarij bersama ‘Ali, cerdas dan kuat hujjahnya. Menjadi ‘Amir di Bashrah, kemudian tinggal di Thaif hingga meninggal dunia tahun 68 H. Beliau lahir tiga tahun sebelum hijrah. Lihat al-Ishaabah (II/330 no. 4781).

[3] Lihat Tafsiir Ibni Katsiir (I/419, cet. Daarus Salaam), Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/79 no. 74

[4] Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/71 no. 49 dan 50).

[5] Beliau Fudhail bin ‘Iyadh bin Mas’ud at-Tamimy t, adalah seorang yang terkenal zuhud, berasal dari Khuraasaan dan bermukim di Makkah, tsiqah, wara’, ‘alim, diambil riwayatnya oleh al-Bukhari dan Muslim. Lihat Taqriibut Tahdziib (II/15 no. 5448), Tahdziibut Tahdziib (VII/264 no. 540).

[6] Tahqiq dan takhrij Syaikh al-Albany Rahimahullah

[7] Beliau Rahimahullah adalah seorang Imam yang luar biasa dalam kecerdasan, kemuliaan, keimaman, kewara’an, kezuhudan, hafalan, alim dan faqih. Nama lengkapnya Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy-Syaibani, lahir pada tahun 164 H. Seorang Muhaddits utama Ahlus Sunnah. Pada masa al-Ma’mun beliau dipaksa mengatakan bahwa al-Qur-an adalah makhluk, sehinga beliau dipukul dan dipenjara, namun beliau menolak mengatakannya. Beliau tetap mengatakan al-Qur-an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Beliau meninggal di Baghdad. Beliau menulis beberapa kitab dan yang paling terkenal adalah al-Musnad fil Hadiits (Musnad Imam Ahmad). Lihat Siyar A’lamin Nubalaa’ (XI/177 no. 78).

[8] Lihat kitab Shariihus Sunnah oleh Imam ath-Thabary Rahimahullah’

[9] Manhaj as-Sunnah 2:482-486, Tahqiq Muhammad Rasyad Salim

[10] Al-Intiqa, Ibnu Abdil Barr, hal. 35

[11] Nidzhamul Khilafah Fi Fikratil Islam, hal. 292

[12] Minhaju As-Sunnah: 2/482, tahqiq Muhammad Rasyad

[13] Lihat kitab Wasathiyyah Ahlis Sunnah bainal Firaq karya Dr. Muhammad Baa Karim Muhammad Baa ‘Abdullah (hal. 41-44)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: