ASY-SYA’BI

Oleh: Ahsanul Huda

(Murid 500 Guru)

Nama lengkapnya Amir bin Surahil bin Abd bin Dzu Kibar. Dzu Kibar adalah nama kabilah yang menempati wilayah Yaman. Ia dikenal sebagai seorang imam, menguasai hampir seluruh ilmu pada masanya. Ia mendapat sebutan Abu Amr al-Hamadzani namun lebih terkenal dengan sebutan Asy Sya’bi. Ibunya berasal dari tawanan perang Jaula, perang masyhur di Persia yang terjadi pada tahun 16 H. Saat ini wilayah ini termasuk wilayah Irak dengan nama As-Sa’diyah.

Amir As-Sya’bi dilahirkan enam bulan setelah Umar bin Khattab menjabat sebagai Khalifah. Ia berbadan kecil, namun kecerdasanya menyala, daya ingatnya selalu menghafal, memiliki pemahaman yang merangkum berbagai macam ilmu, kekuatan enovasi yang menjadikanya melejit di masanya. Masanya dianggap sebagai masa yang terbaik, abad yang dihitung sebagai abad terbaik.

Masa kecil As-Sya’bi di habiskan di Madinah selama delapan tahun. Ia banyak mendengarkan hadits dari Ibnu Umar dan belajar ilmu hitung dari Al-Harits bin Al-A’war. Amir Asy Sya’bi berjumpa dengan 500 sahabat Nabi SAW yang masih tersisa. Ia banyak meriwatkan hadits dari para sahabat yang mulia itu. Di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Saad bin Abi Waqas, Zaid bin Tsabit, Abu Said Al- Khudri, Ubadah bin Shomit, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Ummul Mukmin Aisyah  dan lainya.

Asy-Sya’bi mampu memahami setiap apa yang ia dengar. Ini berkat karunia yang Allah tanamkan berupa nikmat kecerdasan dan daya ingat yang senantiasa menghapal dan memahami. Ia menjelaskan prinsipnya dalam menghapal dan memahami,” Aku tak menuliskan satu tinta hitam dari yang putih hingga hariku ini. Tak ada seorang pun yang memberikan hadits padaku kecuali aku manghapalnya. Saya tidak begitu suka jika hadits itu di ulang lagi untukku.”

Ia tak hanya berhenti pada kadar ilmu dan apresiasi ilmu hanya sampai disini. Ia menambahkan dalam ungkapanya ” Sejak 20 tahun, saya tak mendengar seseorang yang menceritakan tentang suatu hadits kecuali aku mengetahuinya. Saya lupa seandainya yang terlupakan itu dihapalkan oleh seseorang maka denganya ia dapat menjadi seorang yang alim.”

Daya ingat yang ia miliki mendorongnya untuk menyatakan, “Tak saya riwayatkan sesuatu yang lebih sedikit dari pada syair. Seandainya kalian menghendaki maka akan  saya dendangkan untuk kalian syair-syair itu selama sebulan dan tidak akan ada yang aku ulangi.

Ia mengekspresikan sikap tawazdu’ nya dengan asumsi makna yang terbalik. Suatu hari, ia malu pada seseorang yang menjulukinya orang alim. Saat orang tersebut berkata “Jawablah, wahai ahli fiqih lagi alim!” Maka Asy-Sya’bi menjawab ” jangan begitu. Janganlah engkau memuji kami dengan sifat yang bukan milik kami.”

Kemudian ia memberikan definisi ahli Fiqih dan alim dengan pertanyaanya, “Ahli fiqih adalah orang yang menjaga diri dari hal-hal yang di haramkan Allah. Sedangkan orang yang alim adalah orang yang takut kepada Allah, lalu di manakah posisi kita dari definisi itu ?

Indikasi yang menunjukkan kedudukan Asy-Sya’bi secara ilmiah adalah peristiwa yang menggambarkan majlisnya dan para pengikutnya. Abu Yusuf, seorang ahli fiqih yang hidup semasanya memberikan apresiasi,”saya tak pernah melihat orang-orang di masanya yang lebih berat beban lehernya dan lebih sederhana pakaianya dari mereka yang ikut dalam forum Asy Sya’bi.

Suat hari Asy-Sya’bi diutus oleh Abdul Malik untuk bertemu dengan raja Romawi. Ketika rombonagan sampai padanya dan ia mendengar isi diplomsi yang  ia sampaikan, sang raja trbuai dengan kecerdasanya. Ia takjub dengan kecemerlanganya. Ia kagum dengan wawasanya yang luas dan penjelasan yang baik. Sang Raja memintanya untuk tinggal beberapa hari bersama para utusan negara yang melakukan kunjungan kepadanya. Ini di luar kebiasaan Raja itu. Lalu para utusan ini pulang segera.

Amir Asy Sya’bi kurang berkenan tinggal lama disana. Ia pun pergi menghadap Raja untuk meminta izin pulang ke Damaskus,. Ibu kota pemerintahan Abdul Malik bin Marwan.

Sang Raja berkaa padanya,” apakah engkau berasal dari kelurga Raja ?” Amir menjawab, ” Tidak. Saya hanya orang biasa dari golongan kaum muslimin.’

Ketika itu, sang Raja berkata kepada Amir Asy Sya’bi,” Jika engkau pulang menemuio temanmu Abdul Malik bin Marwan sampaikan padanya apa saja yang ingin di ketahui. Dan berikan surat ini kepadanya.”

Ketika Amir Asy Sya’bi pulang ke Damaskus, ia pergi untuk menemui Abdul Malik untuk melaporkan semua yang ia lihat dan dengar. Pada akhir pembicaraanya bersama dengan Abdul Malik, dan sebelm berniat untuk pergi, ia mengatakan,” Wahai Amirul Mukminin ! Sesungguhnya Raja Romawi telah mengantarkanku padamu untuk menyerahkan lembaran ini.”

Lalu Abdul Malik meraih surat tersebut dan membacanya setelah meminta Amir untuk tetap  di tempatnya. Ketika selesai membacanya, ia berkata:

” Apakah engkau mengetahui apa isi surat ini, wahai Amir?”

Maka Amir menjawab,” Tidak, Wahai Amirul Muminin.” Maka Abdul Malik berkata,” Raja Romawi itu telah menuliskan surat kepadaku,” Aku sangat heran kepada orang arab. Mengapa mereka mengangkat orang lain sebagai Raja, bukan pemuda ini ( maksudnya Asy Sya’bi)

Asy Sya’bi berkata,” Sesungguhnya ia mengtakan ini karena ia belum pernah melihatmu. Seandainya ia melihamu wahai Amirul Mukminin, ia pasti tidak mengatakanya.”

Abdul Malik berkata,” Sesungguhnya ia menulis surat ini karena ia dengki padaku atas keberadaan dirimu. Lalu ia berharap dapat membujukku untuk membunuhmu dan melepaskanmu.”

Berita ini sampai kepada Raja Romawi itu dan apa yang dikatakan oleh Abdul Malik pada Amir. Lalu sang Raja berkata dengan penuh heran,” Sungguh, demi Allah, saya tidak menginginkan selain itu.”

Demikianlah Asy Sya’bi di sisi Khalifah. Ia berbuat dengan ilmu dan ketaqwaanya. Berkembanglah ilmu dan hadits. Kecemerlangan ide dan keberanianya dalam kebenaran menerbitkan dengki di hati Raja Romawi. Ia ingin dengan kecerdasan itu akan terjadi perselisihan antara ia dengan Abdul Malik. Tapi upaya itu gagal total.

Asy Sya’bi adalah ahli hadits yang mumpuni. Ia duduk di masjid kufah, namun orang-orang tidak merasa bosan dengan majlisnya. Ilmunya tidak habis sampai disini. Asy-Sya’bi pernah diberikan tugas memimpin peradilan kufah. Gubernur Ibnu Hubairah al- fazari mengatakan padanya “saya tugaskan kepadamu pngadilan ini. Aku bebankan kepadamu untuk selalu berbincang dengan kami pada malam hari di majlis kami.

Dalam bidang keilmuan Asy Sya’bi telah mencapai derajat yang hanya dicapai oleh tiga orang, yaitu Sa’ad bin Al Musayyac di madinah, Amir Asy Sya’bi di kufah, Hasan Al Basri di Basrah dan Makhul di Syam. Tapi Asy Syabi karena rendah hatinya, jika ada orang yang berjumpa denganya, akan sangat malu bila ia di beri gelar orang yang alim, alim, cendikia.”

Asy Sya’bi mempunyai watak, kepribadian dan sifat–sifat mulia dan terpuji. Ini terbukti dengan kebencianya untuk berdebat dan ikut campur pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Suatu hari seorang temanya membicarakanya lalu bertanya,”Wahai Abu Amr ?

”   Ya,” Jawabnya.

” Bagaimana pendapatmu tentang pesoalan dua orang lelaki ini, yang persoalanya banyak di bicarakan orang?”

”  Dua lelaki yang mana ?”

”  Ustman dan Ali,” jawab temanya itu.

” Demi Allah. Sesungguhnya aku tidak akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan bermusuhan dengan Ustman bin Affan atau Ali bin Abi Thalib.

Asy-Sya’bi dapat menyatukan ilmu dengan kesabaran. Ada seseorang yang mengumpatnya dengan pedas dan mecacinya dengan keji. Ketika ia akan menambah cacianya, Asy Sya’bi memotongnya dan berkata pada orang itu, ” Kalau tuduhanmu kepadaku itu benar, aku hanya berdo’a semoga Allah mengampuniku. Dan bila engkau berbohong, aku juga hanya bisa berdo’a semoga Allah mengampunimu.

Ketinggian derajad Asy-Sya’bi tidak menghalanginya untuk memperoleh pengetahuan atau mencari hikmah dari orang yang paling rendah kedudukanya. Ini terbukti ketika ada seorang Badui datang ke majlisnya dengaqn sungguh-sungguh. Dia diam dan tidak berbicara apa-apa. Asy-Sya’bi bertanya  padanya.

” mengapa engkau tidak berbicara ?”

Ia menjawab ” Diamlah maka engkau akan mengetahui. Bila keuntungan seseorang itu di peroleh malalui telinganya, maka keuntungan itu kembali pada dirinya. Bila keuntungan itu di peroleh malalui lisanya, maka keuntungan itu akan kembali pada orang lain.

Asy-Sya’bi terkesan oleh ucapan orang badui itu. Ia sering mengulang-ulang perkataan orang badui itu dalam berbagai kesempatan.

Asy-Sya’bi di karuniai kefasikhan dalam berbicara dan budi pekerti yang baik. Ini terbukti ketika ia berbicara dengan Gubernur Kufah dan Bashrah, Umar bin Hubairah Al-Fazari, tentang sekelompok orang yang ia penjarakan.” Wahai Gubernur, kalau engkau memenjarakan   mereka dengan kebenaran, maka memberikan maaf itu akan melapagkan dada mereka.”

Sang Gubernur sagat tetrkesan dengan kat- kata Asy-Sya’bi sehingga ia melepaskan tahanan itu sebagai penghormatan kepada Asy Sya’bi.

Di akhir hayatnya, ia berkata pada teman- temanya,” orang – orang sholeh generasi pertama tidak suka dengan orang yang memperbanyak hadits. Seandanya persoalanku dipercepat, maka tidak berharap tertunda. Aku tidak menyampaikan hadits kecual apa yang telah  disepakati oleh ahli hadits.

Al- Hasan Al- Basri bela dungkawa atas wafatnya, ” Semoga Allah merahmatinya karena dia seorang yang sangat luas ilmunya, besar kesabaranya, dan ia termasuk bagian  dari pada islam di suatu tempat.

Asy Sya’bi meninggal pada tahun 150 H pada usia 77 tahun, konon pada usia lebih dari 80 tahun. Semoga Allah merahmati Asy Sya’bi, sebgai seorang tabi’in yang mulia, seorang alim yang cerdas dan ikut menjaga sunnah Rasullullah SAW.

Dikutip; Dari Kitab 101 Kisah Tabi’in

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: