Al-QUR’AN DIKORUPSI 127 AYAT ?

(Tudingan Misionaris JIL dan Penginjil Kristen)

Akhir-akhir ini, dalam berbagai situs, mailist dan blog, para penginjil giat menyerang otentitas Al-Qur’an dengan berbagai syubhat. Salah satu amunisi untuk menyerang Al-Qur’an, justru mereka kais dari mulut para para liberalis berkedok islam (kelompok JIL). Artikel “merenungkan sejarah Al-Qur’an” tulisan Luthfi Assyaukani dalam islamlib.com (17/11/2003), menjadi “durian runtuh” bagi para penginjil. Dalam artikel tersebut, pentolan JIL yang menjadi dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina Jakarta ini menuduh Al-Qur’an surat Al-Ahzab yang ada saat ini tidak sesuai dengan Al-Qur’an yang diajarkan Nabi Muhammad, karena dikorupsi 127 ayat pada proses pembukuanya. Berikut kutipanya:

“Perbedaan antara mushaf Ustman dengan mushaf-mushaf lainya bisa dilihat dari komplain Aisyah, istri Nabi, yang dikutip oleh Jalaludin Al-Suyuthi dalam kitabnya, Al-Itqon, dalam kata-kata berikut: “pada masa Nabi, surah Al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Ustman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang yakni 73 ayat.

Serangan para penginjil kristen dan liberalis muslim itu bukan hal yang baru, melainkan sudah kuno dan kadaluarsa (out of date). Jauh sebelumya tudingan ini telah dilontarkan oleh Robert Morey pada tahun 1992 dalam buku The Islamic Invasion. Morey menulis:

“Some verses mising. According to Profesor Guillaume in his book, Islam, (p.191 ff), some of the original verses of the Quran were lost, for exemple, one Sura originally had 200 verses in the days of Ayesha. But by the time Utsman standardized the tex of the Quran, it hed only 73 verses! A total of 127 verses had been lost, and they have never been recovered.” (The Islamic Invasion; Conforting the World’s  Fastest Growing Religion, Harvest House Publihers, Eugene, Oregen, p.121)

(Beberapa ayat hilang. Menurut Profesor Guillaume dalam bukunya yang berjudul Islam, pada halaman 191 ff disebutkan bahwa beberapa ayat Al-Qur’an yang asli telah hilang. Contohnya adalah salah satu surat yang aslinya terdiri dari 200 ayat pada zaman Aisyah. Akan tetapi anehnya sesaat sebelum Utsman membukukan teks Al-Qur’an, jumlah ayat tersisa hingga 73 ayat! Sedangkan 127 ayat lainya telah hilang begitu saja dan tidak pernah ditemukan lagi hingga sekarang).

Betapa compaknya ocehan penginjil Kristen dan aktivis JIL itu, sangat cocok bagai cambul dapat tutupnya. Sama-sama menghujat, dan sama-sama tidak ilmiah.

Gaya mengkritik para penginjil, orientalis dan liberalis itu sangat kampungan dan tidak ilmiah sama sekali. Mereka hanya bisa menuding Al-Qur’an hilang tanpa menyebutkan teks ayat yang dituding hilang itu, apa motifnya, dan siapa yang menghilangkan.

Hal ini berbeda dengan gaya ilmuan Kristen ketika mengkritik Al-Kitab (Bibel) kitab suci mereka sendiri. Ketika memvonis kepalsuan ayat ketuhanan Trinitas dalam kitab 1 Yohanes 5:7-8 mereka bisa membuktikan siapa pemalsunya, kapan terjadinya dan apa motif pemalsuan ayat tersebut. William Barclay teolog terkemuka asal Skotlandia yang dikukuhkan menjadi Guru Besar dalam bidang Biblical Critism tahun 1996 bisa menunjukkan asal-usul kepalsuan ayat Trinitas itu. Dengan data-data yang valid, dibuktikanya bahwa orang pertama yang mengutip ayat itu adalah Pricilian, seorang bidat asal spanyol yang meninggal tahun 385. Sisipan teks ayat itu berasal dari komentar atau catatan pada margin Al-Kitab yang dimasukkan secara resmi ke dalam Al-Kitab karena dianggap mendukung doktrin Trinitas (William Barcly, The Daily Bible  Study: the Epistles of John and Jude, (Edisi Indonesia: Pemahaman Al-Kitab setiap hari: Surat-surat Yohanes dan Yudas), halaman 185-187.

Terhadap tudingan korupsi 127 ayat dalam Al-Qur’an, kita tidak bisa berkomentar banyak, karena tudingan tersebut disuguhkan apa adanya tanpa penelitian sedikitpun. Padahal, sebagai seorang ilmuan terpelajar, seharusnya mereka melakukan penyelidikan lebih jauh, dari mana riwayat kisah tersebut dikutip oleh Guillame. Tuduhan ini tertolak dengan fakta-fakta berikut:

Pertama: Khabar dalam Al-Itqan dikutip olah Luthfi Assaukanie maupaun Profesor Guillame tidak valid dan patut dipertanyakan, karena tidak mencantumkan sanad yang shahih sampai kepada para sahabat.

Apalagi, para ulama hadits menyebut riwayat yang mencatut nama Aisyah Ummul Mukmin itu sebagai “sanad  yang paling lemah” (Tafsir At-Tahrir Wat Tanwir 10/264)

Senada dengan itu, Muhammad Izzah Daruzah yang melakukan penelitian terhadap hal itu, menyebutkan sebagai Khabar yang kurang dipercaya (Dhaif) dan tidak terdapat dalam kitab Hadits yang shahih. Maka tawaquf (abstain) dari kabar tersebut lebih afdhol. Selain itu, dalam Mushaf Utsman ra dinukil dari mushaf yang telah disusun pada masa Abu Bakar ra, tidak mungkin terjadi penghapusan satu ayat pun, apalagi sampai ratusan ayat seperti yang dituduhkan itu. Apalagi Aisyah ra adalah wanita yang kuat hafalanya baik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi. Sehingga sangat tidak masuk akal jika Aisyah hanya berdiam diri saat menjumpai ada ratusan ayat yang dihapus. Kalaupun pengurangan ayat itu terjadi tidak masuk akal pula kalau dirinya tidak membantah (At-Tafsir Al-Hadits : Tafsir Suwar Muratabah Hasba Nuzul, 8/238-239).

Kedua: Secara logika, penyusutan ayat dari 200 menjadi 73, artinya hilang 172 ayat. Ini bukan suatu jumlah yang sedikit. Seandainya Utsman mengorupsi 127 ayat Al-Qur’an pada proses pembukuan, bisa dipastikan umat akan geger pada waktu itu, bahkan bisa terjadi konflik berdarah yang akan menggagalkan proses pembukuan Al-Qur’an. Jika berani mengorupsi ayat Al-Qur’an meskipun hanya satu ayat, pastilah Utsman akan menuai komplain dari para sahabat lainya, karena sangat banyak sahabat yang hafal Al-Qur’an di luar kepala.

Ketiga: Riwayat dhoif tentang komplain Aisyah terhadap mushaf Al-Qur’an, semakin terbukti dengan adanya ijma’ umat Islam terhadap mushaf Al-Qur’an pada waktu itu. Setelah mushaf Al-Qur’an pada Utsman setelah dibukukan, naskah tersebut diverifikasi  dan dicek dengan mushaf yang dari Hafshah, lalu dibacakan kepada para sahabat didepan Utsman. Ternyata tak satu pun sahabat yang memprotes  (komplain) terhadap mushaf Al-Qur’an tersebut. (the history of qur’anic texs, Edisi Indonesia: Sejarah teks Al-Qur’an halaman 105).

Keempat: Dalam sejarah pembukuan Al-Qur’an, tidak pernah terjadi ayat yang hilang, karena sejak zaman Nabi, Al-Qur’an sudah dihafal oleh ratusan sahabat secara mutawatir. Yang terjadi hanyalah terselipnya media catatan ayat pada proses pembukuanya, padahal ayat tersebut sudah dihafal di luar kepala oleh para sahabat. Jika hal ini terjadi, maka penulisan ayat Al-Qur’an dalam mushaf Al-Qur’an belum bisa dilakukan, karena panulisan ayat Al-Qur’an dilakukan jika memenuhi dua syarat: adanya  hafalan yang dihafalkan langsung dari Rasulullah saw dan adanya tulisan yang ditulis lansung dihadapan Rasulullah saw. Jika para sahabat sudah hafal suatu ayat tapi tulisanya belum dijumpai, maka tulisan tersebut dicari sampai ketemu, kemudian ditulis dalam mushaf.

Mislnya, surat Al-Ahzab 33 belum ditemukan catatanya, sementara ayat tersebut sudah dihafal diluar kepala oleh para sahabat. Padahal Abu Bakar mensyaratkan adanaya catatan Al-Qur’an yang disaksikan oleh dua orang ketika ditulis langsung dihadapan Rasulullah.

Maka ayat yang dimaksud dicari-cari terus, hingga akhirnya diketemukan pada catatan sahabat Abu Khuzaimah bin Aus Al-Anshari. Demikian pula dengan surat At-Taubah 128-129, yang akhirnya ditemukan dikediaman sahabat Khuzaimah bin Tsabit.

Tak satu pun ayat Al-qur’an yang hilang, karena ayat-ayat itu langsung dihafal oleh para sahabat setelah diwahyukan kepada Nabi saw. Dan tidak pernah terjadi perbedaan naskah Al-Qur’an menurut Aisyah dengan naskah Al-Qur’an yang dibukukan oleh kepanitiaan yang dibentuk oleh Utsman bin Affan.

Itulah salah satu cara penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an adalah menjadikannya sebagai mu’jizat yang penuh dengan keindahan struktur sehingga mudah difalkan orang, meskipun orang itu tidak paham bahasa Arab.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang-orang yang mengambil pelajaran” (QS. Al-Qalam: 17, 22, 32, 40)

Buah penjagaan Allah terhadap kitab suci-Nya adalah tidak adanya perbedaan Al-Qur’an yang beredar diseluruh dunia. Di Negara manapun, Al-Qur’an tetap sama dan seragam, dalam bahasa arab yang sudah dihafal oleh jutaan huffadz.

Fakta-faktu itu seharusnya dapat mencelikkan mata para penginjil, orientalis dan JIL. Bila mereka keukeh tidak mau menerima kebenaran Al-Qur’an, bahkan terus menerus menghujatnya, masih adakah perbedaan aqidah antara para misionaris JIL dengan penginjil Kristen itu, selain kolom agama di KTP?

Dikutip dari majalah Suara Islam Edisi 72, tanggal 7-21 Agustus 2009 M/ 16-30 Sya’ban 1430 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: