SYAHADATAIN

Kita semua telah maklum bahwa setiap kita mungkin akan mengatakan saya Islam, KTP saya islam pakaian saya pun Islami, tapi coba tengok sebentar benarkah keislaman kita atau jangan-jangan Islam kita hanya sebatas KTP saja.

Jika kita mengatakan bahwa kita adalah orang Islalm maka sudah barang tentu kita harus memenuhi semua tuntutan yang terkandung di dalam Syahada yang kita ikrarkan. Karena sesungguhnya dalam syahadat itu ada rukun, syarat, konsekuensi dan yang membatalkannya.

Syahadat Laa illaha Illallah adalah beri’tiqad dan berikrar bahwasannya tidak ada yang disembah dan menerima ibadah kecuali Allah, mentaati hal tersebut dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapapun orangnya. Illallah adalah Itsbat atau penetapan Allah semaata untuk desembah.

Jadi  makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”.

Sedangkakn Syahadat Muhammadu Rasulullah adalah berikrar secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalakan konsekuensinya, dengan mentaati perintahnya, membenarkan ucapanya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkannya.

Syahadat yang kita ucapkan ini memiliki rukun.

Rukun Laa illaha Illallah

La illaha Illallah memiliki dua rukun yaitu:

  1. An-Nafyu atu peniadaan, Laa illaha membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap apa yang disembah selain Allah.
  2. Al-Itsbat (penetapan) illallah menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Makana dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an seperti firman Allah:

Rukun Muhammad Rosulullah

Syahadat ini juga mempunyai dua rukun yaitu ‘Abduhu dan Rosuluhu hamba dan utusanNya. Dua rukun ini menafikan Ifrath (berlebih-lebihan) dan Tafrith (meremahkan) pada hak Rosulullah. Beliau adalah hamba dan RosulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini.

Allah menjelasakan di dalam Al-Qur’an bahwa Muhammad juga seorang hamba yang menyembah Allah. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ

Katakanlah :”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu” (QS. Al-Kahfi: 110)

Sedangkan rasul artinya orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.

Persaksian untuk Rasulullah dengan dua sifat ini meniadakan Ifrath (berlebihan) dan Tafrith (meremehkan) kepada hak rasulullah. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya, hingga mengakatnya kepada derajat sebagai sembahan. Mereka beristighotsah kepadanya, berdo’a dan memohon kepadanya. Dan jelas ini adaah kebathilan yang tidak dibenarkan dalam Islam.

Syarat-syarat Syahadatain

Bersaksi dengan Laa illaha Illallah harus memenuhi tujuh syarat, tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Tujuh syarat itu adalah:

Pertama Ilmu

Memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuanya tentang hal tersebut.

Allah berfirman:

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).”(Az-Zukhruf: 86)

Kedua Yakin

Orang yang mengikrarkan syahadat haruslah meyakini kandungan syahadat itu. Manakala ia masih merasa ragu maka sia-sia belaka persaksiannya itu.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu” (Al-Hujurat: 15)

Ketiga Qobul (menerima)

Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya.

Allah berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ (36)

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka ”Laa illaha illallah” mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS. As-Shofat: 35,36)

Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa illaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum menerima makna laa illaha illallah.

Keempat Inqiyad (tunduk dan patuh dengan kandungan makna syahadatain)

Allah berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Qs. Luqman:22)

Kelima Shidq

Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkannya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan maka ia adalah munafik dan pendusta.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka Hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (Al-Baqarah 8-10)

Keenam Ikhlas

Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya’ atau sum’ah.

Ketujuh Mahabbah (kecintaan)

Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konseuensinya.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah:165)

Maka ahli Tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hl ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa illaha illallah.

Jika seseorang telah memiliki keimanan yang kuat dengan rukun dan syarat serta konsekuensinya dapat terpenuhi maka Allah akan memberikan kebahagiaan dengan jaminan hidup di akhirat, namun jika seseorang lebih memilih kekufuran maka baginya balasan neraka yang menyala-nyala.

Oleh karena itu mari kita pupuk keimanan di dalam hati kita sehingga kita akan mendapatkan jaminan dari Allah yang telah Allah janjikan di dalam Alqur’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: